Jayapura, Taburanews.my.id – Kondisi Pasar Youtefa Otonom kembali menuai sorotan tajam. Pasca pergantian kepala pasar, para pedagang mengaku situasi pasar rakyat terbesar di Kota Jayapura itu berubah drastis menjadi semrawut, rawan kriminalitas, hingga dipenuhi tumpukan sampah.
Keluhan para pedagang mencuat setelah kepala pasar lama, La Kaimudin, digantikan oleh pimpinan baru.
Mereka menilai, sejak pergantian tersebut serta ditariknya pos penjagaan Brimob Polda Papua, kondisi keamanan dan ketertiban pasar semakin memburuk.

“Dulu pasar lebih tertata, bersih dan pedagang merasa dilindungi. Sekarang justru marak pencurian sampai penikaman. Pedagang jadi takut,” ungkap Lilis, salah satu pedagang, Jumat (8/5/2026).
Para pedagang menilai, saat kepemimpinan sebelumnya, penataan kios lebih rapi, pengawasan keamanan berjalan baik, dan komunikasi antara pengelola pasar dengan pedagang berlangsung kondusif.
Kini, mereka mengaku kehilangan rasa nyaman karena meningkatnya gangguan keamanan serta lemahnya pengawasan di area pasar.
Kritik juga diarahkan kepada Pemerintah Kota Jayapura.
Pedagang meminta wali kota segera turun tangan mengevaluasi total pengelolaan pasar agar kondisi tidak semakin memburuk dan mencoreng program 100 hari kerja pemerintah kota.
“Jangan tempatkan orang hanya karena jabatan, tapi tidak punya kemampuan kerja. Kalau pasar rakyat rusak, nama baik pemerintah juga ikut tercoreng,” tegas Hasna, pedagang lainnya.
Tak hanya soal keamanan, pedagang juga membongkar dugaan adanya oknum yang disebut ikut mengatur aktivitas di dalam pasar meski bukan petugas resmi.
Bahkan, disebut ada sejumlah lapak yang diduga disewakan kepada pedagang lain dengan pungutan bulanan tertentu.
“Katanya ada oknum CPNS yang tinggal di pasar dan ikut mengatur lapak. Ada juga yang mengatasnamakan keluarga pejabat. Ini harus jadi perhatian serius Wali Kota Jayapura,” kata Yosef, pedagang Pasar Youtefa.
Situasi di Pasar Youtefa kini disebut menjadi alarm serius bagi Pemerintah Kota Jayapura.
Pedagang berharap evaluasi menyeluruh segera dilakukan, termasuk mengembalikan sistem keamanan dan penataan pasar agar aktivitas ekonomi masyarakat kecil kembali aman dan nyaman.
Pasar tradisional, menurut para pedagang, bukan sekadar tempat jual beli, melainkan wajah pelayanan pemerintah kepada rakyat kecil.
Ketika keamanan melemah dan kepercayaan pedagang hilang, maka yang dipertaruhkan adalah wibawa pemerintah di mata masyarakat. ***
Penulis: MB
Editor : Tim Redaksi

