Mimika, Taburanews.my.id — Di tengah dinginnya kabut pegunungan Tembagapura, Papua Tengah, puluhan anak duduk berjejer di dalam sebuah honai sederhana. Tak ada gedung sekolah megah, tak ada ruang kelas permanen, bahkan sebagian dari mereka telah bertahun-tahun kehilangan akses pendidikan formal. Namun di tempat itulah, harapan mereka untuk masa depan masih menyala.

Harapan itu mereka sampaikan secara langsung kepada Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol. Jermias Rontini saat mengunjungi Honai Belajar binaan Polsek Tembagapura, Selasa (16/6/2026). Kunjungan tersebut menjadi momen yang mengungkap realitas pahit pendidikan di wilayah pegunungan Papua yang terdampak konflik berkepanjangan.

Di hadapan Kapolda, seorang siswa bernama Tinus Waker berdiri dan menyampaikan pertanyaan yang membuat suasana seketika hening.

“Kami bercita-cita menjadi dokter, polisi, TNI, dan guru. Tapi bagaimana kami bisa meraih cita-cita itu jika sejak tahun 2017 kami belum memiliki sekolah yang memadai?” tanyanya.

Pertanyaan sederhana itu bukan hanya suara seorang anak. Ia menjadi representasi jeritan puluhan anak Papua yang selama bertahun-tahun harus berjuang mempertahankan mimpi di tengah keterbatasan.

Konflik keamanan yang terjadi sejak 2017 di sejumlah kampung di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, menyebabkan berbagai fasilitas pendidikan rusak bahkan tidak lagi berfungsi. Kondisi tersebut semakin memburuk ketika sejak 2024 aktivitas pendidikan formal praktis berhenti berlangsung di wilayah terdampak.

Akibatnya, banyak anak kehilangan kesempatan belajar secara normal dan terancam putus sekolah. Melihat kondisi tersebut, Polsek Tembagapura kemudian mendirikan Honai Belajar sebagai solusi darurat agar anak-anak tetap dapat membaca, menulis, dan berhitung.

Saat ini, sebanyak 55 anak mengikuti kegiatan belajar di honai tersebut. Meski hanya beralaskan kesederhanaan, tempat itu menjadi ruang bagi mereka untuk menjaga cita-cita yang nyaris terenggut keadaan.

Kapolda Papua Tengah mengaku terharu melihat semangat belajar yang ditunjukkan anak-anak Tembagapura. Menurutnya, negara tidak boleh membiarkan persoalan pendidikan di wilayah konflik berlangsung terlalu lama.

“Saya tidak ingin ada anak-anak yang putus sekolah dan kehilangan masa depannya. Anak-anak ini adalah generasi penerus Papua Tengah yang harus kita selamatkan bersama,” tegas Jermias.

Ia memastikan aspirasi yang disampaikan para siswa akan diteruskan kepada pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait agar kebutuhan pendidikan di Tembagapura mendapat perhatian serius.

“Apa yang disampaikan anak-anak hari ini akan saya teruskan kepada pihak yang berwenang. Kita semua berharap ada solusi nyata agar mereka dapat kembali memperoleh pendidikan yang layak,” ujarnya.

Tak hanya anak-anak, para orang tua yang hadir juga menyampaikan harapan serupa. Mereka menginginkan hadirnya sekolah yang layak sekaligus situasi keamanan yang kondusif agar anak-anak dapat tumbuh tanpa rasa takut.

Dengan suara bergetar, salah seorang perwakilan orang tua mengungkapkan bahwa pendidikan dan perdamaian adalah dua hal yang kini paling mereka dambakan.

Bagi masyarakat Tembagapura, sekolah bukan sekadar bangunan. Sekolah adalah harapan untuk keluar dari keterbatasan, jembatan menuju masa depan yang lebih baik, sekaligus simbol kehadiran negara bagi generasi muda Papua.

Di akhir kunjungannya, Kapolda menyerahkan bantuan alat tulis, perlengkapan belajar, dan sembako kepada warga. Namun bagi anak-anak yang memenuhi honai sederhana itu, bantuan terbesar yang mereka nantikan bukanlah buku atau pensil.

Mereka menunggu hadirnya ruang kelas yang sesungguhnya.

Mereka menunggu guru yang dapat mendampingi setiap hari.

Dan mereka menunggu satu jawaban yang hingga kini masih menggantung di langit pegunungan Tembagapura:

Kapan anak-anak Papua akhirnya kembali memiliki sekolah yang layak untuk mengejar mimpi-mimpi mereka? ***

Penulis: RR
Editor : Jiro Nussy