Nabire, Taburanews.my.id —
Di tengah keterbatasan fasilitas, Pondok Pesantren APIK Karadiri, Wanggar, Distrik Nabire Barat, Papua Tengah, tetap menjalankan fungsi pendidikan dan pembinaan santri selama 24 jam. Kondisi tersebut terungkap saat jajaran DPD dan DPC Partai Gerindra Provinsi Papua Tengah melakukan anjangsana ke pesantren tersebut dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-18 Partai Gerindra, Jumat (6/2/2026).

Pimpinan Pondok Pesantren APIK Kaladiri, Gus Muh. Nizza Human, menyampaikan permohonan maaf kepada para tamu atas keterbatasan sarana dan prasarana yang tersedia di lingkungan pesantren.

“Kami mohon maaf apabila tempat yang kami sediakan kurang layak. Kami hanya bisa menyediakan apa adanya. Di sinilah santri-santri tinggal, belajar, dan dibina selama 24 jam,” ujar Gus Muh. Nizza Human dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, Pondok Pesantren APIK Kaladiri menyelenggarakan pendidikan formal mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA) yang terintegrasi dengan asrama. Seluruh aktivitas pendidikan dan pembinaan santri dipusatkan di lingkungan pesantren.

Saat ini, sekitar 120 santri masih menetap dan mengikuti proses pendidikan secara penuh. Menurut Gus Nizza, pengelolaan pesantren merupakan amanah yang diteruskan dari orang tua pendiri, yang tetap dijaga meski dihadapkan pada berbagai keterbatasan.

“Kami hanya meneruskan apa yang telah dirintis oleh orang tua kami. Dengan segala keterbatasan, pesantren ini kami pertahankan sebagai ruang pendidikan dan pembinaan karakter anak-anak,” katanya.

Dalam rangkaian kegiatan anjangsana HUT Gerindra ke-18 tersebut, Wakil Ketua II DPD Partai Gerindra Provinsi Papua Tengah, Dr. Drs. Petrus I. Suripatty, M.Si, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua II DPR Papua Tengah, menegaskan bahwa pendidikan—termasuk pendidikan berbasis pesantren—harus ditempatkan sebagai agenda strategis pembangunan daerah.

Menurut Petrus Suripatty, tantangan utama Papua Tengah bukan semata pembangunan fisik, melainkan kualitas sumber daya manusia yang masih tertinggal akibat keterbatasan akses pendidikan.

“Kalau kita bicara masa depan Papua Tengah, kuncinya ada pada pendidikan. Tanpa pendidikan yang kuat, kita akan terus tertinggal, meskipun sumber daya alam kita melimpah,” tegas Petrus Suripatty.

Ia menilai pesantren memiliki peran penting dalam menjangkau masyarakat yang selama ini belum sepenuhnya tersentuh sistem pendidikan formal.

“Pesantren seperti ini bekerja dalam senyap, dengan fasilitas terbatas, tetapi hasilnya nyata. Mereka membentuk karakter, disiplin, dan mental anak-anak Papua. Negara tidak boleh abai terhadap kerja-kerja pendidikan seperti ini,” ujarnya.

Petrus Suripatty menambahkan, komitmen Partai Gerindra Papua Tengah tersebut sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi utama pembangunan nasional, termasuk di wilayah Papua.

“Presiden Prabowo menegaskan bahwa pembangunan SDM adalah prioritas. Di Papua Tengah, kebijakan itu harus diterjemahkan secara konkret—memperkuat sekolah, pesantren, kualitas guru, dan akses pendidikan hingga ke wilayah pinggiran,” katanya.

Ia menegaskan, Partai Gerindra Papua Tengah akan mendorong agar kebijakan pendidikan tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan diwujudkan dalam dukungan anggaran, regulasi, dan keberpihakan nyata di tingkat daerah.

“Kami di DPR dan di Partai Gerindra punya tanggung jawab moral untuk memastikan pendidikan di Papua Tengah tidak sekadar berjalan, tetapi benar-benar maju dan berkeadilan,” tutupnya. (FN).