Nabire, Taburanews.my.id — Pemerintah Kabupaten Nabire menerima bantuan obat-obatan ternak dari Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Papua Tengah Tahun Anggaran 2025 yang diserahkan pada 2026. Bantuan ini ditujukan untuk memperkuat penanganan kesehatan hewan di tengah meningkatnya kasus penyakit ternak, termasuk wabah African Swine Fever (ASF) yang berdampak signifikan terhadap populasi ternak dan ekonomi masyarakat.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, drh. I Dewa Ayu, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan nyata pemerintah provinsi dalam memperkuat layanan kesehatan hewan di daerah.
“Bantuan ini sangat membantu kami di kabupaten, terutama dalam kondisi keterbatasan anggaran daerah dan meningkatnya kebutuhan penanganan penyakit ternak. Ini menjadi penguatan penting bagi pelayanan kesehatan hewan di Nabire,” kata Dewa Ayu.
Ia menegaskan, wabah ASF dan sejumlah penyakit ternak lainnya membutuhkan respons cepat dan dukungan logistik yang memadai agar dampaknya tidak semakin meluas ke masyarakat.
Sejalan dengan itu, Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Penyuluhan Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, Francisco Mariano Maker, mengatakan bantuan obat-obatan tersebut akan memperkuat operasional di lapangan, terutama di wilayah dengan populasi ternak tinggi.
“Obat-obatan yang kami terima memiliki kandungan antibiotik, vitamin, serta jenis long action yang efektif dan dapat digunakan secara luas, baik pada sapi, babi, ternak ruminansia, monogastrik, maupun unggas,” ujar Francisco, Kamis, 29 Januari 2026.
Menurut dia, karakter obat long action memungkinkan pengobatan dilakukan lebih efisien karena cukup satu kali suntikan dengan daya kerja yang lebih lama di dalam tubuh hewan.
Dalam pelaksanaannya, Dinas Peternakan Nabire menerapkan dua pola penanganan utama, yakni respons terhadap laporan masyarakat serta pengobatan massal di basis-basis populasi ternak setelah dilakukan survei penyakit. Wilayah seperti Wanggar dan Makimi menjadi contoh lokasi prioritas pengobatan massal ternak sapi.
“Kami tidak langsung turun tanpa dasar. Survei dan pemantauan dilakukan lebih dulu untuk memastikan penyakit yang dominan, seperti cacingan, sehingga penanganannya tepat sasaran,” kata Francisco.
Namun, baik Dewa Ayu maupun Francisco menekankan bahwa ketersediaan tenaga medis, peralatan, dan obat-obatan harus diimbangi dengan peran aktif masyarakat dalam pelaporan dini kasus penyakit.
“Pelaporan yang cepat dari masyarakat sangat menentukan. Tanpa itu, penanganan penyakit menular akan terlambat dan risiko penyebaran semakin besar,” ujar Dewa Ayu.
Target dari penguatan layanan kesehatan hewan ini adalah menekan angka kesakitan dan kematian ternak serendah mungkin, sekaligus menjaga dan meningkatkan populasi ternak sebagai indikator keberhasilan sektor peternakan di Kabupaten Nabire.
Pemerintah Kabupaten Nabire berharap dukungan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah dapat terus berlanjut dan ditingkatkan, baik dalam bentuk obat-obatan maupun bantuan lain yang menunjang operasional di lapangan. (JN).

