Yapen, Taburanews.my.id — Musyawarah Besar (Mubes) Pemuda Adat Suku Onate II resmi dibuka dengan semangat persatuan dan kebangkitan generasi muda adat di Pulau Yapen.
Dalam sesi wawancara ekslusif yang penuh semangat dan menyentuh isu identitas budaya, Ketua Panitia Pelaksana, Louis Nenepat, menyerukan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah derasnya arus globalisasi.
Di hadapan para tokoh adat, pemuda, dan masyarakat yang hadir, Louis menegaskan bahwa Mubes ini bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum besar menyatukan seluruh pemuda Adat Suku Onate dari berbagai subdialek dan wilayah adat.

“Kita ingin menjaga warisan leluhur yang hari ini harus tetap dijaga demi anak cucu kita. Warisan itu berupa bahasa, tanah adat, dan seluruh hal yang berkaitan dengan jati diri kita sebagai anak-anak Onate,” ujar Louis kepada media Taburanews.
Mubes Pemuda Adat Suku Onate II direncanakan berlangsung selama dua hari dengan agenda utama reorganisasi kepengurusan serta penyatuan visi besar pemuda adat untuk masa depan Pulau Yapen.
Louis menjelaskan, kepengurusan sebelumnya dipimpin oleh Herman Atururi bersama jajaran, pengurus lama yang dinilai telah membawa organisasi berjalan baik hingga masa jabatan berakhir. Panitia sebenarnya telah dibentuk sejak 2022, namun pelaksanaan baru dapat terlaksana tahun 2026 karena berbagai kendala.
Tak hanya membahas organisasi, forum ini juga menjadi ruang konsolidasi besar pemuda dari subdialek Mora, Ijari, dan Manare yang tersebar dari pesisir utara Pulau Yapen hingga kawasan pegunungan Moman dan Kota Serui.
Menurut Louis, tantangan terbesar masyarakat adat saat ini adalah terkikisnya identitas budaya akibat perkembangan zaman dan minimnya perhatian terhadap wilayah adat.
“Banyak orang mengatakan pulau ini adalah salah satu pulau tertua, namun tertinggal dalam pembangunan. Karena itu kami ingin daerah ini lebih dikenal dan lebih diperhatikan,” katanya.
Pernyataan itu langsung mendapat respons dan perhatian dari peserta yang hadir karena dinilai mewakili keresahan masyarakat adat di Yapen selama ini.
Dalam kesempatan itu, Louis juga mengajak generasi muda Nelatian yang telah sukses di berbagai bidang untuk kembali membangun kampung halaman. Ia menekankan pentingnya transfer pengetahuan, pengalaman, dan solidaritas antargenerasi demi membangun kekuatan masyarakat adat yang mandiri.
Ia bahkan mendorong pengembangan sektor pertanian dan pengelolaan laut berbasis kearifan lokal sebagai langkah nyata mengangkat harkat masyarakat adat.
“Kita ingin memunculkan potensi-potensi itu. Rekan-rekan yang sudah berhasil, yang telah menjadi doktor, mari datang dan duduk bersama mencari jalan terbaik,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Louis menyampaikan pesan persatuan yang langsung disambut tepuk tangan peserta Mubes.
“Barang yang berat akan menjadi ringan jika dikerjakan bersama-sama.”
Semangat kebersamaan itulah yang kini menjadi harapan baru bagi kebangkitan Pemuda Onate dalam menjaga adat, budaya, dan masa depan tanah leluhur mereka di Pulau Yapen. ***
Penulis: FN
Editor : Jiro Nussy

