Nabire, Taburanews.my.id — Menjelang Hari Raya Idul Fitri, pergerakan harga bahan pokok di sejumlah wilayah Provinsi Papua Tengah mulai menunjukkan gejolak. Pemantauan terbaru pemerintah daerah mencatat adanya kenaikan harga pada beberapa komoditas strategis di Kabupaten Nabire dan Mimika, sementara sejumlah daerah lain masih relatif stabil.

Sekretaris Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Papua Tengah, Ermambo Rumaropen, mengungkapkan dari delapan kabupaten yang dipantau pemerintah, lima daerah masih mampu menjaga stabilitas harga bahan pokok.

“Dari delapan kabupaten yang kami pantau, lima kabupaten harga bahan pokok masih stabil, yaitu Paniai, Dogiyai, Deiyai, Puncak Jaya dan Lanny Jaya,” kata Ermambo saat menyampaikan hasil pemantauan harga per 9 Maret.

Namun kondisi berbeda terjadi di dua pusat aktivitas ekonomi Papua Tengah, yakni Nabire dan Mimika.

Di Nabire, lonjakan harga paling mencolok terjadi pada komoditas tomat. Harga tomat yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu per kilogram kini melonjak menjadi Rp30 ribu per kilogram.

“Yang mengalami kenaikan di Nabire itu tomat, dari Rp20 ribu naik menjadi Rp30 ribu per kilogram,” ujarnya, kepada awak media saat ditemuin diruang kerjanya. Rabu (11/3/2026).

Di sisi lain, sejumlah komoditas di Nabire justru mengalami penurunan harga. Beberapa di antaranya adalah bawang merah, cabai merah keriting, cabai rawit merah, gula pasir kemasan, minyak goreng premium, Minyak Kita dan tepung terigu.

Harga cabai merah keriting misalnya, turun dari Rp51.667 per kilogram pada 27 Februari menjadi Rp46.667 per kilogram pada 9 Maret. Meski turun, harga tersebut masih berada di atas rata-rata harga nasional yang berada di kisaran Rp37.930 per kilogram.

Sementara itu di Kabupaten Mimika, tekanan harga justru datang dari komoditas cabai dan bawang merah. Harga bawang merah naik dari Rp50 ribu menjadi Rp55 ribu per kilogram, jauh di atas harga nasional yang berada di kisaran Rp40 ribu.

Kenaikan juga terjadi pada cabai merah keriting yang naik dari Rp62.500 menjadi Rp65 ribu per kilogram.

“Kenaikan harga ini juga berdampak pada inflasi daerah yang tercatat naik sekitar 4 persen,” ungkap Ermambo.

Meski demikian, tidak semua komoditas di Mimika mengalami kenaikan. Pemerintah mencatat harga ikan tongkol dan minyak goreng Minyak Kita justru mengalami penurunan.

Pemerintah daerah pun bergerak cepat untuk mengantisipasi lonjakan harga menjelang Lebaran. Dalam rapat koordinasi bersama kepolisian, aparat diminta memperketat pengawasan distribusi bahan pokok di pasar.

“Kami bersama kepolisian akan turun langsung melakukan pengawasan di lapangan, terutama di Nabire dan Mimika. Tujuannya untuk memastikan tidak ada penimbunan barang oleh pelaku usaha yang bisa memicu kenaikan harga,” tegasnya.

Selain bahan pokok, harga daging sapi juga menjadi perhatian warga. Di Nabire, harga daging sapi bahkan tembus Rp200 ribu per kilogram.

Menurut Ermambo, mahalnya harga daging sapi di Nabire disebabkan minimnya jumlah peternak lokal sehingga pasokan sangat terbatas.

“Di Nabire harga sapi bisa sampai Rp200 ribu per kilogram karena peternaknya sangat sedikit. Berbeda dengan Mimika yang harganya sekitar Rp150 ribu karena ada peternak dan pasokan dari luar daerah,” jelasnya.

Di tengah fluktuasi harga sejumlah komoditas, pemerintah memastikan harga telur masih relatif stabil. Bahkan di Nabire harga telur cenderung turun karena pasokan dari peternak lokal mulai tersedia.

Pemerintah daerah juga terus memantau pergerakan harga secara ketat setiap hari. Laporan harga bahan pokok dari seluruh kabupaten dikirimkan ke Kementerian Perdagangan setiap pukul 17.00 WIT.

Dengan pengawasan yang diperketat dan koordinasi lintas instansi, pemerintah berharap gejolak harga bahan pokok di Papua Tengah dapat dikendalikan hingga Hari Raya Idul Fitri. (FN).