Nabire, Taburanews.my.id – Harga daging sapi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, melonjak hingga Rp160 ribu per kilogram. Lonjakan harga ini dipicu oleh terbatasnya pasokan sapi potong di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.
Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluhan Dinas Peternakan Kabupaten Nabire, Fransisco Maker, yang mewakili Kepala Dinas Peternakan Nabire drh. I. Dewa Ayu Dwita K.M, mengatakan kenaikan harga tersebut tidak lepas dari hukum permintaan dan penawaran di pasar.
“Kalau permintaan meningkat atau tetap tinggi sementara pasokan terbatas, maka harga pasti akan naik. Itu hukum ekonomi yang terjadi sekarang,” kata Fransisco, kepada awak media saat ditemuin diruang kerjanya. Jum’at (6/3/2026).
Ia menjelaskan, populasi sapi di Nabire saat ini mengalami keterbatasan karena dalam beberapa tahun terakhir tidak ada pemasukan sapi dari luar daerah. Kondisi itu dipengaruhi oleh merebaknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di sejumlah daerah sumber ternak.
Di sisi lain, kebutuhan daging sapi di Nabire terus berjalan. Rata-rata pemotongan sapi di daerah tersebut mencapai sekitar delapan ekor per hari untuk memenuhi konsumsi masyarakat.
“Pemotongan terus berlangsung, sementara pemasukan sapi dari luar belum ada. Akibatnya stok sapi layak potong semakin berkurang,” ujarnya.
Menurut Fransisco, pemerintah daerah tidak dapat memaksakan pemasukan ternak dari luar wilayah apabila daerah asal masih terdampak wabah. Selain itu, tingginya biaya operasional juga membuat para pelaku usaha belum berani mendatangkan sapi ke Nabire.
Beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat sebenarnya telah diizinkan menjadi sumber pemasukan sapi. Namun jarak yang jauh dan biaya transportasi yang tinggi membuat para pengusaha masih mempertimbangkan risiko kerugian.
“Kalau mereka hitung-hitung tidak menguntungkan, tentu mereka tidak akan memasukkan sapi ke Nabire,” jelasnya.
Jika kondisi ini terus terjadi, pemerintah daerah khawatir populasi sapi di Nabire akan semakin menurun. Bahkan ada potensi pemotongan terhadap sapi betina produktif atau sapi yang masih muda demi memenuhi kebutuhan pasar.
Pemerintah daerah pun mendorong adanya pengusaha yang bersedia memasukkan sapi hidup maupun daging beku dari luar daerah untuk menambah pasokan di pasar.
Fransisco mengatakan Bupati Nabire telah memberikan rekomendasi untuk pemasukan daging sapi dari sejumlah daerah sumber ternak. Salah satu opsi yang disarankan adalah pemasukan daging dari Jawa Barat, termasuk daging eks-impor yang telah memenuhi standar kesehatan.
Langkah ini diharapkan dapat menekan kenaikan harga sekaligus menjaga stabilitas pasokan daging di Nabire.
Ia juga mengingatkan bahwa lonjakan harga daging sapi berpotensi memicu inflasi daerah, sehingga menjadi perhatian pemerintah pusat.
“Inflasi menjadi atensi Kementerian Dalam Negeri. Karena itu pemerintah daerah diminta mengambil langkah untuk mengendalikan harga komoditas yang mempengaruhi ekonomi masyarakat,” kata Fransisco.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pengusaha yang mengajukan permohonan resmi untuk memasukkan daging sapi dari luar daerah.
Proses pemasukan sendiri harus melalui mekanisme perizinan berjenjang, mulai dari rekomendasi pemerintah kabupaten hingga persetujuan pemerintah provinsi Papua Tengah melalui pejabat otoritas veteriner.
Sementara itu, untuk komoditas lain seperti daging babi, sudah ada pengusaha yang mengajukan pemasukan dari luar daerah, yakni dari Bali. Namun prosesnya masih menunggu persetujuan dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah melalui sistem aplikasi yang berlaku. (FN).

