Nabire, Taburanews.my.id — Kepala SPPG Kalisusu 001, Yameth Pahabol, S.IP, memastikan pelayanan Program Makan Bergizi (MBG) di wilayahnya berjalan tertib, tepat sasaran, dan menjunjung tinggi nilai toleransi.
Dalam keterangannya kepada wartawan, Yameth menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pelayanan yang telah berlangsung sejak dirinya resmi bertugas pada November lalu.

“Puji Tuhan, Alhamdulillah, sampai hari ini pelayanan berjalan baik tanpa kendala berarti di lapangan,” ujarnya.
Saat ini, SPPG Kalisusu 001 melayani tujuh sekolah yang terdiri dari SD, SMP, TK, sekolah negeri, swasta, dan sekolah berbasis keagamaan. Selain itu, pelayanan juga menjangkau kelompok 3B yakni balita, ibu menyusui (busui), dan ibu hamil (bumil).
Total penerima manfaat mencapai 1.890 porsi per hari, termasuk 134 penerima dari katagori 3B.
Distribusi makanan kini semakin efektif setelah adanya dukungan kendaraan box, menggantikan mobil biasa yang sebelumnya digunakan.
“Dengan mobil box, pendistribusian jauh lebih tertata dan mempermudah pelayanan ke sekolah-sekolah,” jelas Yameth.
Di bawah kepemimpinannya, SPPG Kalisusu 001 mempekerjakan 47 karyawan, ditambah ahli gizi, akuntan, dan kepala SPPG, sehingga total 50 tenaga kerja aktif setiap hari.
Salah satu terobosan penting yang dilakukan Yameth adalah mendaftarkan seluruh tenaga kerja dalam program BPJS Ketenagakerjaan sebagai bentuk perlindungan risiko kerja.
“Kita tidak pernah tahu kapan musibah datang. Kalau terjadi kecelakaan kerja, BPJS siap menanggung biaya pengobatan,” katanya.
Sejauh ini, tidak ada komplain dari karyawan dan pelayanan tetap berjalan stabil.
Dalam momentum Ramadan, SPPG Kalisusuk 001 menerapkan mekanisme khusus sesuai petunjuk teknis Badan Gizi Nasional (BGN).
Bagi guru dan siswa yang menjalankan ibadah puasa, diberikan menu kering untuk dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka. Sementara bagi yang tidak berpuasa, tetap disediakan menu basah siap saji seperti nasi dan lauk ayam yang dikonsumsi di sekolah pada jam makan.
“Kami menjunjung toleransi. Semua tetap menerima haknya, hanya mekanismenya yang menyesuaikan,” ujar Yameth.
Yameth juga menyoroti tantangan penyediaan bahan baku pangan. Ia berharap pemerintah dan pihak terkait meningkatkan sosialisasi dan pelatihan agar masyarakat lokal lebih aktif bercocok tanam dan memasok kebutuhan program MBG.
Menurutnya, komoditas lokal seperti jeruk, salak, dan keladi dapat dikembangkan sehingga dana negara yang beredar benar-benar menyentuh masyarakat setempat.
“Kalau stok lokal tersedia, kita beli dari masyarakat. Supaya mama-mama Papua ikut merasakan manfaatnya,” tegasnya.
Saat ini, karena kebutuhan mencapai ribuan porsi per hari, sebagian bahan baku masih didatangkan dari luar daerah akibat keterbatasan produksi lokal.
Yameth menegaskan, tujuan utama MBG bukan sekadar memberi makan, tetapi membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini.
“Dengan gizi yang baik, anak-anak kita siap bersaing di mana saja, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” ujarnya.
Ia berharap program ini terus berjalan berkelanjutan dan mendapat dukungan semua pihak.
“Kita harus menghargai program negara ini. Karena lewat program ini, masa depan anak-anak sedang dipersiapkan,” tutup Yameth Pahabol, S.IP. (FN).

