“Data Adalah Kunci Orang Papua Jadi Tuan di Negeri Sendiri”
Nabire, Taburanews.my.id — Provinsi Papua Tengah adalah provinsi baru hasil pemekaran Otonomi Khusus. Wilayah ini dikenal sebagai jantung Tanah Papua, menghubungkan kawasan pesisir seperti Teluk Cenderawasih hingga pegunungan tengah yang kaya emas, kopi, dan sumber daya alam lainnya.
Namun di balik kekayaan itu, masih ada satu persoalan mendasar: minimnya data komprehensif potensi daerah.

Ketua TIM 11 Kadin Papua Tengah, Maximus Tipigau, menegaskan bahwa riset potensi ekonomi di delapan kabupaten adalah langkah awal membangun kedaulatan ekonomi Orang Asli Papua (OAP).
“Kita tidak bisa hanya bicara Papua kaya. Kita harus punya data. Dari mana mulai? Mulainya dari data. Data itu dasar kolaborasi,” tegas Maximus, kepada awak media saat ditemuin di Cafe Cartenz Nabire, Kamis malam (26/2/2026).
TIM 11 dan 18 Tenaga Teknis Turun Lapangan
Maximus Tipigau dipercaya memimpin TIM 11 Kadin Papua Tengah, didampingi sekretaris dan 18 tenaga teknis, termasuk tiga akademisi asli Nabire.
Tim ini memetakan potensi di delapan kabupaten:
- Kabupaten Nabire
- Kabupaten Paniai
- Kabupaten Dogiyai
- Kabupaten Deiyai
- Kabupaten Intan Jaya
- Kabupaten Mimika
- Kabupaten Puncak
- Kabupaten Puncak Jaya
Fokusnya meliputi:
- UMKM dan kewirausahaan lokal
- Pariwisata dan kebudayaan
- Pertanian kopi dataran tinggi
- Pertambangan emas
- Potensi investasi sektor strategis lainnya
Menurut Maximus, data ini nantinya akan dikolaborasikan dengan pemerintah provinsi dan kabupaten untuk mendukung program gubernur, wakil gubernur, serta para bupati.
“Kadin adalah mitra strategis pemerintah. Wajib hukumnya kita mendukung visi gubernur dan visi bupati. Tapi dukungan itu harus berbasis data.”pungkasnya.
Investor Takut? Jawabannya Kemandirian Ekonomi OAP
Dalam wawancara tersebut, Maximus Tipigau juga menyinggung soal kekhawatiran investor terhadap isu keamanan di Papua.
“Investor paling takut soal keamanan. Papua kaya, tapi kalau tidak aman, siapa yang mau bawa uang masuk?”tanyanya.
Namun menurutnya, solusi keamanan jangka panjang bukan hanya pendekatan aparat, melainkan penguatan pelaku usaha lokal.
“Kalau orang asli Papua belum jadi pelaku utama bisnis, sulit ada jaminan kepercayaan. Orang Papua harus jadi pengusaha dulu. Harus mulai dulu.”pintan Maximus.
Kadin, kata dia, akan menjadi fasilitator antara investor dan pengusaha asli Papua. Kolaborasi harus saling menguntungkan. Jika OAP tidak merasakan manfaat, maka investasi tidak akan berkelanjutan.
Gunung dan Pantai Bersatu dalam Ekonomi
Papua Tengah memiliki karakter unik: wilayah gunung dan pesisir dalam satu provinsi. Dari tambang emas di Mimika hingga kekayaan laut Nabire dan Teluk Cenderawasih, potensi tersebar luas.
Maximus Tipigau menyebut riset ini sebagai upaya menyatukan “gunung dan pantai” dalam satu visi ekonomi.
“Kita satukan gunung dan pantai. Bersatu bicara sektor ekonomi. Jangan hanya kaya alam, tapi orang Papua harus kaya secara kapasitas dan usaha.”kata Tipigau.
Visi Besar: Tuan di Negeri Sendiri
Bagi Maximus Tipigau, jabatan Ketua TIM 11 bukan sekadar tugas organisasi. Ini adalah tanggung jawab moral.
Ia menegaskan, tim tidak mendatangkan konsultan dari luar daerah. Akademisi dan tenaga teknis diambil dari Nabire dan Papua Tengah sendiri.
“Apa yang kita punya, apa yang kita rasakan, itu yang kita angkat. Kita buka untuk investor. Tapi orang Papua harus jadi pemain utama.”sebutnya.
Optimisme menjadi fondasi kerja tim.
“Kita mulai dengan suka cita. Banyak kekurangan, tapi kita semangat. Harapan kita satu: orang Papua jadi tuan di negeri sendiri.”tutupnya. (FN).

