Nabire, Taburanews.my.id — Satu tahun memimpin Provinsi Papua Tengah, Gubernur Meki Nawipa bersama Wakil Gubernur Denias Geley memanfaatkan momentum refleksi untuk menegaskan arah pembangunan: pendidikan gratis sebagai fondasi kebangkitan.
Dalam talkshow yang dipandu jurnalis senior Andy Noya di Ballroom Kantor Gubernur Papua Tengah, Nabire, keduanya memaparkan capaian sekaligus tantangan tahun pertama pemerintahan. Forum itu menjadi ruang terbuka untuk menguji janji politik di hadapan publik.

“Ini bukan soal siapa dapat apa. Ini tentang anak-anak Papua Tengah yang harus punya masa depan lebih baik,” ujar Meki Nawipa, disambut tepuk tangan peserta. Jum’at (20/2/2026).
Di hadapan audiens, Meki menegaskan bahwa kebijakan sekolah gratis bukan sekadar program populis, melainkan strategi jangka panjang membangun sumber daya manusia (SDM). Dalam enam hingga tujuh bulan implementasi awal, lebih dari 2.000 pelajar disebut telah menikmati akses pendidikan tanpa biaya.
Ia juga menyinggung capaian mahasiswa asal Papua Tengah yang menempuh studi di Nabire dan sejumlah perguruan tinggi di Papua, dengan rata-rata indeks prestasi di atas 3,0. “Anak-anak Papua mampu, asal diberi kesempatan,” katanya.
Bagi Meki, pengalaman hidup dalam keterbatasan menjadi alasan moral untuk mempercepat pemerataan akses pendidikan, terutama bagi anak-anak di wilayah pedalaman.
Andy Noya menguji komitmen itu lewat pertanyaan soal tata kelola anggaran dan efektivitas birokrasi. Meki menegaskan, transparansi dan disiplin anggaran menjadi kunci. Pemerintah, katanya, tidak akan larut dalam seremoni, melainkan fokus pada hasil yang terukur.
Denias Geley menambahkan, persatuan antarelemen masyarakat menjadi prasyarat utama. “Kita bekerja bukan untuk pencitraan, tetapi untuk memastikan perubahan itu nyata,” ujarnya.
Satu tahun pertama, menurut keduanya, adalah fase konsolidasi: menyelaraskan visi, memperkuat perangkat daerah, dan memastikan program prioritas berjalan. Pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat disebut sebagai tiga pilar yang akan terus diperkuat.
Di sesi talkshow, pesan yang mengemuka bukan sekadar evaluasi, melainkan ajakan kolektif: bekerja dalam satu tujuan, membangun Papua Tengah dari fondasi yang paling dasar yakni manusia.
Refleksi di ballroom itu menjadi penanda bahwa tahun pertama adalah awal dari jalan panjang. Janji pendidikan gratis telah digelorakan. Tantangannya kini, memastikan ia bertahan dan berbuah. (FN).

