Nabire, Taburanews.my.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Nabire kembali menjadi sorotan setelah ditemukan buah pisang yang diduga tidak layak konsumsi di salah satu sekolah.
Menanggapi hal tersebut, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire, Marsel Asyerem, menegaskan bahwa pihaknya telah memiliki mekanisme pengawasan ketat di setiap sekolah.

Marsel menjelaskan, setiap sekolah yang menerima program MBG memiliki penanggung jawab khusus yang disebut PIC MBG sekolah. PIC inilah yang bertugas memantau kualitas makanan yang dibagikan kepada siswa.
“Jika ada makanan yang tidak layak, misalnya buah busuk atau makanan yang sudah tidak segar, PIC sekolah harus memfoto dan langsung berkoordinasi dengan dapur untuk meminta penggantian,” ujar Marsel, kepada awak media di Klinik Rihensa Nabire, Jum’at malam (13/3/2026).
Ia menegaskan, makanan yang diganti harus sesuai dengan jenis yang sama.
Jika buah pisang ditemukan busuk, maka penggantinya tetap pisang yang masih segar, bukan diganti dengan jenis buah lain.
“Kalau pisang busuk, diganti dengan pisang yang fresh. Tidak bisa diganti dengan apel atau buah lain. Begitu juga kalau jeruk yang rusak, gantinya harus jeruk juga,” katanya.
Marsel juga melarang guru lain atau pihak lain memotret makanan MBG tanpa koordinasi dengan PIC. Menurutnya, hal ini untuk menghindari kesalahpahaman yang bisa menyebar di media sosial.
“Sekarang semua orang pakai Facebook Pro, TikTok Pro, Instagram Pro. Kalau semua memotret dan langsung menyebarkan, itu bisa menimbulkan masalah. Karena itu cukup PIC yang bertanggung jawab secara resmi dari kepala sekolah,” jelasnya.
Terkait kasus pisang yang sempat ditemukan bermasalah di salah satu sekolah, Marsel menduga hal tersebut lebih berkaitan dengan persoalan internal di dapur penyedia makanan.
Ia menambahkan, program MBG di Nabire saat ini melayani siswa dengan anggaran Rp15 ribu per anak. Anggaran tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan seperti sayur, daging, buah, hingga bumbu dapur.
“Kalau ada seribu penerima manfaat, berarti anggarannya Rp15 juta. Itu dibagi untuk semua kebutuhan bahan makanan agar siswa mendapatkan makanan bergizi,” ujarnya.
Marsel menegaskan pihaknya akan terus melakukan evaluasi terhadap mitra dapur agar kejadian serupa tidak kembali terulang di sekolah lain. (FN).

